Ringkasan: Forbes Asia memasukkan delapan startup Indonesia ke daftar 100 to Watch 2026: Cekat.AI, Durianpay, Grouu, Loluna, Satu Dental, Sirka, Soul Parking, dan Waste4Change. Indonesia berbagi posisi kelima dengan Australia dari 16 negara dan wilayah. Hasil kompilasi redaksi: tiga dari delapan startup itu punya ACV Capital sebagai investor yang dilaporkan.
Delapan startup RI masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026, dan komposisinya tidak seperti yang banyak orang duga. Hanya satu yang murni berbasis AI. Sisanya bergerak di pembayaran B2B, makanan bayi, perawatan bayi, klinik gigi, klinik kesehatan preventif, parkir, dan pengelolaan sampah.
Artikel ini merangkum daftar lengkapnya, profil tiap startup, lalu memetakan pola yang muncul dari datanya.
Apa itu Forbes Asia 100 to Watch?

Forbes Asia 100 to Watch adalah daftar tahunan yang menyorot startup dan perusahaan kecil berpotensi tumbuh di Asia-Pasifik. Edisi 2026 adalah edisi keenam. Perusahaan diajukan lewat nominasi akselerator, inkubator, universitas, dan modal ventura, lalu dinilai tim editor Forbes Asia.
Forbes menetapkan batas yang jelas. Perusahaan harus berkantor pusat di Asia-Pasifik dan berstatus swasta yang mencari laba. Pendapatan tahunannya tidak boleh melebihi US$50 juta. Total pendanaan tidak boleh melebihi US$100 juta hingga 15 Agustus 2026.
Kriteria penilaiannya mencakup dampak terhadap industri dan kawasan, kecocokan pasar, model bisnis, inovasi, rekam jejak pertumbuhan pendapatan, dan kemampuan menarik pendanaan. Menurut artikel resmi Forbes Asia, editor berhak mencabut atau mengganti perusahaan jika muncul informasi baru yang mendiskualifikasi.
Mengapa Delapan Startup Indonesia Ini Penting di 2026?

Delapan nama ini penting karena datang saat pendanaan startup lokal sedang ketat. Forbes Asia mencatat India memimpin dengan 19 perusahaan, disusul Singapura 15, China 10, serta Jepang dan Korea Selatan masing-masing 9. Indonesia dan Australia sama-sama membawa 8.
Secara regional, 100 perusahaan dalam daftar telah mengumpulkan total US$2,4 miliar. Hampir US$1 miliar di antaranya masuk sepanjang 2026, menurut Forbes Asia. Liputan6 mengonversinya menjadi sekitar Rp42,5 triliun, dengan asumsi kurs sekitar Rp17.720 per dolar AS.
Konteks lokalnya juga menarik. Indonesia punya banyak startup, tetapi kualitas ekosistem masih jadi sorotan. Redaksi pernah membahas kesenjangan antara peringkat jumlah startup dan peringkat mutu ekosistem Indonesia berdasarkan data Kemenperin. Masuknya delapan nama ke daftar regional adalah sinyal dari sisi kualitas.
Forbes Asia menyebut AI sebagai tema dominan edisi ini. Hampir seperempat peserta adalah perusahaan teknologi enterprise dengan layanan berbasis AI. Ada 10 perusahaan robotika dan 10 perusahaan solusi lingkungan. Wakil Indonesia justru lebih beragam: hanya Cekat.AI yang masuk kategori enterprise berbasis AI.
Data Kompilasi Redaksi: Delapan Startup dalam Angka

[Kompilasi dan analisis redaksi mstsgmo dari profil resmi Forbes Asia. Angka dasar bersumber dari Forbes Asia, per 24 Agustus 2026.]
| Metrik | Nilai | Sumber | Metode |
| Jumlah startup Indonesia dalam daftar | 8 dari 100 | Forbes Asia, 2026 | Data langsung |
| Posisi Indonesia menurut jumlah perusahaan | Kelima, sejajar Australia | Forbes Asia, 2026 | Data langsung |
| Total pendanaan 100 perusahaan | US$2,4 miliar (hampir US$1 miliar di 2026) | Forbes Asia, 2026 | Data langsung |
| Tahun berdiri | 2014 (1), 2020 (3), 2021 (2), 2022 (1), 2023 (1) | Forbes Asia, 2026 | Hitung ulang redaksi |
| Sebaran kategori | 6 kategori Forbes untuk 8 startup | Forbes Asia, 2026 | Hitung ulang redaksi |
| Startup dengan ACV Capital sebagai investor | 3 dari 8 | Forbes Asia, 2026 | Hitung ulang redaksi |
| Startup dengan nilai pendanaan diungkap | 5 dari 8 | Forbes Asia, 2026 | Hitung ulang redaksi |
Dua temuan menonjol. Pertama, lima dari delapan startup berdiri pada 2020 atau 2021. Kedua, tiga startup (Cekat.AI, Loluna, dan Soul Parking) tidak mengungkap nominal putaran terbarunya.
Daftar 8 Startup Indonesia di Forbes Asia 100 to Watch 2026
Berikut daftar lengkap dengan kategori resmi dari Forbes Asia.
| # | Startup | Kategori Forbes | Berdiri | CEO |
| 1 | Cekat.AI | Enterprise Technology | 2023 | Matthew Sebastian |
| 2 | Durianpay | Finance | 2020 | Natasha Ardiani |
| 3 | Grouu | E-commerce & Retail | 2020 | Jessica Marthin |
| 4 | Loluna | E-commerce & Retail | 2022 | Bianca Belnadia Lie |
| 5 | Satu Dental | Biotechnology & Healthcare | 2021 | Satria Situmorang |
| 6 | Sirka | Biotechnology & Healthcare | 2021 | Rifanditto Adhikara |
| 7 | Soul Parking | Consumer Technology | 2020 | Kenneth Darmansjah |
| 8 | Waste4Change | Energy & Green Tech | 2014 | Mohamad Bijaksana Junerosano |
Sumber tabel: Forbes Asia 100 to Watch 2026 dan Liputan6, 25 Agustus 2026.
1. Cekat.AI: Bot AI untuk Layanan Pelanggan
Cekat.AI berbasis di Jakarta dan mengotomatisasi layanan pelanggan lewat bot AI. Bot ini menjawab pertanyaan di situs web klien, WhatsApp, dan Instagram. Platformnya juga membuat profil pelanggan agar tim sales bisa menindaklanjuti prospek.
Menurut perusahaan, lebih dari 3.000 pelanggan di 15 industri memakai perangkat lunaknya. Di antaranya Siloam Hospitals dan jaringan Indomaret. Pada April 2026, Cekat.AI mengumpulkan pendanaan seed dari Insignia Ventures Partners dengan nominal yang tidak diungkap. Dananya untuk merekrut insinyur perangkat lunak dan ekspansi regional.
2. Durianpay: Gateway Pembayaran B2B
Durianpay adalah gateway pembayaran B2B asal Jakarta. Forbes Asia mencatat perusahaan ini memproses lebih dari US$5,5 miliar total transaksi pada 2025. Menurut perusahaan, itu adalah tahun profit pertamanya.
Klien lokalnya lebih dari 400, termasuk Jiwa Group dan Evermos. Total pendanaan yang terkumpul sejak 2020 mencapai US$8,1 juta. Durianpay berencana memperluas layanan ke luar Indonesia dan menambah layanan pembayaran lintas negara berbasis stablecoin.
Fakta profitabilitas ini selaras dengan pergeseran sikap investor. Redaksi pernah mengulas alasan investor startup 2026 kini menolak model bakar uang.
3. Grouu: Dari Katering Makanan Bayi ke Ritel
Grouu berdiri pada 2020 sebagai layanan katering makanan bayi yang bergizi dan dimasak segar. Kini produknya mencakup makanan siap santap dan camilan untuk anak lebih besar, plus bahan masakan.
Grouu hadir di lebih dari 3.000 titik ritel, termasuk supermarket seperti Lottemart, serta kanal online seperti Shopee. Ada juga jaringan lebih dari 190 mompreneur di 50 kota yang menjadi titik pengambilan di lingkungan sekitar. Pendanaan yang terkumpul lebih dari US$1 juta dari Teja Ventures dan Selera Kapital.
4. Loluna: Perawatan Kulit Bayi
Loluna adalah merek perawatan kulit bayi yang berdiri pada 2022. Produknya berupa sabun mandi, krim, dan losion tabir surya hipoalergenik. Loluna memposisikan diri sebagai alternatif terjangkau di pasar yang didominasi merek global seperti Johnson & Johnson dan Pigeon.
Produk pertama diluncurkan pada September 2023. Kini dijual di 10.000 toko, termasuk Alfamidi dan Watsons, serta di Shopee dan TikTok Shop. Pada Februari 2025, Loluna menutup putaran seed dengan nominal tidak diungkap. Investornya termasuk Alpha JWC Ventures dan Creative Gorilla Capital.
5. Satu Dental: Klinik Gigi Terjangkau
Satu Dental meluncur pada 2021 dengan misi layanan gigi yang terjangkau. Forbes Asia mencatat perusahaan ini punya 56 klinik di Jabodetabek dan dua kota besar lain di Jawa per Juni 2026. Jaringan mitranya mencakup 500 dokter gigi dan dokter umum.
Total pendanaan yang dilaporkan melampaui US$20 juta dari beberapa putaran, termasuk satu putaran Juni 2026 dengan nominal tidak diungkap. Target akhir tahun: lebih dari 60 klinik dan ekspansi ke lebih banyak kota. Untuk konteks sektor kesehatan, lihat juga tips healthtech startup mengejar pendanaan investor 2026.
6. Sirka: Kesehatan Preventif
Sirka lahir sebagai aplikasi wellness yang memberi pendampingan pola makan dan konsultasi profesional. Perusahaan lalu bermitra dengan klinik kesehatan, dan membuka klinik sendiri pada 2024. Fokus kliniknya: manajemen berat badan, kesehatan pencernaan, diabetes, dan pengelolaan penyakit kronis.
Kini Sirka punya dua klinik di Jabodetabek dan berencana membuka tiga lagi dalam setahun. Pada 2022, Sirka menggalang pendanaan seed US$2,6 juta yang dipimpin bersama ACV Capital dan Wavemaker Partners.
7. Soul Parking: Teknologi Parkir
Soul Parking berbasis di Jakarta dan menyasar masalah parkir kota padat. Layanannya mencakup rak baja mekanis vertikal untuk motor. Menurut perusahaan, rak ini bisa memperluas kapasitas parkir hingga 8 kali lipat.
Ada juga sistem operasi untuk palang parkir yang melacak kendaraan masuk dan keluar secara real time. Aplikasinya memungkinkan pengemudi mencari tempat, membayar digital, dan meminta motor diambil lebih awal. Soul Parking mengelola 150 lokasi di Indonesia. Pada Januari 2025, perusahaan menutup perpanjangan Series A yang dipimpin ACV Capital dan AppWorks.
8. Waste4Change: Pengelolaan Sampah
Waste4Change adalah startup tertua di daftar, berdiri pada 2014. Forbes Asia menyebutnya satu-satunya wakil Indonesia di kategori Energy & Green Tech versi Liputan6. Perusahaan mengklaim telah mengelola lebih dari 90.000 ton sampah sejak berdiri, termasuk 38.000 ton pada 2025 lewat daur ulang material dan pengomposan sampah organik.
Pelanggannya sekitar 400 perusahaan dan 21.000 rumah tangga. Pada 2022, Waste4Change mengumpulkan Series A US$5 juta yang dipimpin bersama ACV Capital dan Barito Mitra Investama milik Prajogo Pangestu.
Pola Apa yang Muncul dari Kedelapan Startup Ini?

Bagian ini adalah analisis redaksi. Datanya berasal dari profil Forbes Asia, tetapi kesimpulan pola adalah pembacaan kami.
Pertama, portofolio investor beririsan. ACV Capital muncul di tiga profil: Sirka, Soul Parking, dan Waste4Change. Wavemaker Partners muncul di Sirka. Artinya, sebagian modal ventura tertentu aktif menyeleksi startup dari sektor yang sangat berbeda. Founder yang ingin menyusun daftar target investor bisa mulai dari modal ventura lokal yang aktif mendanai startup tahap awal.
Kedua, produk fisik dan layanan langsung dominan. Klinik gigi, klinik kesehatan, rak parkir, layanan sampah, dan produk bayi punya komponen lapangan yang kuat. Hanya Cekat.AI dan Durianpay yang murni perangkat lunak dan layanan digital.
Ketiga, angka pendanaan sangat bervariasi. Yang diungkap berkisar dari lebih dari US$1 juta (Grouu) sampai lebih dari US$20 juta (Satu Dental). Tiga startup memilih tidak membuka nominal terbarunya. Batas Forbes untuk peserta adalah total pendanaan maksimal US$100 juta, jadi kedelapan startup ini masih tergolong tahap awal hingga menengah.
Keempat, ekspansi bertahap jadi tema umum. Satu Dental menargetkan lebih dari 60 klinik. Sirka berencana menambah tiga klinik. Durianpay menyiapkan ekspansi lintas negara. Soul Parking membidik kota tier dua dan tiga, menurut Forbes Asia.
Kelima, traksi diukur dengan angka operasional. Setiap profil membawa metrik konkret: jumlah pelanggan, klinik, lokasi, atau volume transaksi. Metrik semacam ini jarang berupa valuasi.
Cara Memanfaatkan Daftar Ini — Langkah demi Langkah

Cara memanfaatkan daftar Forbes Asia 100 to Watch: 1) baca metodologinya, 2) bandingkan metrik operasional, 3) cek investor yang terlibat, 4) verifikasi klaim ke sumber perusahaan, 5) pantau pembaruan tiap kuartal.
- Baca metodologi terlebih dulu. Daftar ini menilai potensi, bukan kinerja finansial teruji. Batas pendapatan maksimal US$50 juta menunjukkan targetnya memang perusahaan kecil.
- Bandingkan metrik operasional, bukan nama besar. Lihat jumlah pelanggan, titik ritel, atau klinik. Angka ini lebih mudah dibandingkan antarstartup sejenis.
- Catat investor yang sama. Irisan investor menunjukkan sektor mana yang sedang dilirik modal ventura.
- Verifikasi klaim ke sumber primer. Banyak angka di profil adalah klaim perusahaan. Cari laporan resmi atau pernyataan langsung sebelum menjadikannya dasar keputusan.
- Pantau perkembangan tiap kuartal. Target seperti 60 klinik atau layanan stablecoin baru terbukti atau tidak dalam beberapa bulan.
Bagi founder yang ingin belajar dari format profil ini, ada juga pembahasan tentang strategi startup profit tanpa bakar uang iklan.
Batasan yang Perlu Diketahui Sebelum Menarik Kesimpulan
Ada empat batasan penting. Pertama, banyak metrik ditulis Forbes sebagai klaim perusahaan (“menurut perusahaan” atau “says”), bukan hasil audit independen. Kedua, tiga startup tidak membuka nominal pendanaan terbaru, sehingga perbandingan pendanaan tidak lengkap.
Ketiga, masuk daftar bukan jaminan kinerja bisnis atau investasi. Keempat, Forbes berhak mengganti perusahaan dalam daftar jika ada informasi baru. Rujuk selalu halaman resmi Forbes Asia untuk komposisi terbaru.
Disclaimer: Artikel ini adalah rangkuman berita dan analisis ekosistem, bukan saran investasi. Konsultasikan keputusan investasi Anda dengan perencana keuangan bersertifikat, dan rujuk data resmi OJK, BI, atau BPS bila perlu.
FAQ — 8 Startup RI Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026
Apa itu Forbes Asia 100 to Watch 2026?
Daftar tahunan keenam dari Forbes Asia yang menyorot startup dan perusahaan kecil berpotensi tumbuh di Asia-Pasifik. Perusahaan dinominasikan akselerator, universitas, dan modal ventura, lalu dinilai berdasarkan dampak industri, kecocokan pasar, model bisnis, inovasi, pertumbuhan pendapatan, dan kemampuan menarik pendanaan.
Siapa saja 8 startup Indonesia dalam daftar ini?
Cekat.AI, Durianpay, Grouu, Loluna, Satu Dental, Sirka, Soul Parking, dan Waste4Change. Kategorinya meliputi teknologi enterprise, keuangan, e-commerce dan ritel, kesehatan, teknologi konsumen, serta energi dan teknologi hijau.
Berapa banyak startup dari negara lain di daftar ini?
India memimpin dengan 19 perusahaan, disusul Singapura 15, China 10, serta Jepang dan Korea Selatan masing-masing 9. Indonesia dan Australia sama-sama 8. Total ada 16 negara dan wilayah, menurut Forbes Asia.
Apakah masuk daftar ini berarti startup itu aman untuk diinvestasikan?
Tidak. Daftar ini menilai potensi tumbuh, bukan kelayakan investasi. Banyak metrik berupa klaim perusahaan. Lakukan verifikasi mandiri dan konsultasikan dengan perencana keuangan bersertifikat sebelum mengambil keputusan.
Referensi
- Forbes Asia — Forbes Asia 100 To Watch 2026, 24 Agustus 2026
- Liputan6 — 8 Startup Indonesia Masuk Forbes Asia 100 to Watch 2026, 25 Agustus 2026
Ditulis oleh Tim Redaksi mstsgmo berdasarkan profil resmi Forbes Asia dan pemberitaan Liputan6.
