Experience Based Tourism inovasi usaha pariwisata

Experience Based Tourism enovasi usaha pariwisata

Experience Based Tourism usaha starup kekinian pengdongkrak turis dan mengenalkan tempat wisata ke manca negara dan lokal.

Baca juga : Pohon Pisang sebagai Wadah Bertani?
Baca juga : Travel Budaya, Alam, dan Kuliner jogjakarta
Baca juga : wisata indah penuh misteri kota sukabum
Baca juga : Seni Tari Jaipong Warisan Budaya Mendunia

Peran Experiential Travel dan Digital Story Telling dalam Mengembangkan  Desa Wisata di Indonesia Pasca Pandemi - Hallo Desa - Halaman 2

Experience-Based Tourism adalah jenis pariwisata yang berfokus pada pengalaman otentik dan interaktif yang dialami wisatawan selama kunjungan. Berbeda dengan pariwisata konvensional yang hanya menekankan “melihat” objek wisata, wisata berbasis pengalaman menekankan “merasakan, ikut serta, dan berinteraksi” langsung dengan kehidupan lokal, budaya, maupun alam.
Wisatawan tidak hanya melihat sawah, tetapi turun langsung menanam padi bersama petani.
Tidak hanya menonton tari tradisional, tetapi ikut belajar gerakan dasar tarian tersebut.
Tidak hanya membeli batik, tetapi mengalami proses membatik dengan canting.

Mengapa Experience-Based Tourism Menjadi Tren?

Beberapa faktor kekinian yang membuat tren ini semakin diminati:

  1. Perubahan Preferensi Wisatawan
    Wisatawan modern (khususnya generasi milenial & Gen Z) lebih suka mencari pengalaman unik dibanding sekadar mengunjungi tempat populer.
  2. Era Media Sosial
    Pengalaman otentik mudah dibagikan ke media sosial (Instagram, TikTok, YouTube). Aktivitas unik lebih menarik untuk ditunjukkan dibanding foto tempat wisata biasa.
  3. Kebosanan Wisata Konvensional
    Sekadar mengunjungi monumen, pantai, atau taman hiburan tidak lagi cukup. Wisatawan ingin merasakan “hidup sebagai orang lokal” meski hanya sebentar.
  4. Kesadaran Budaya & Lingkungan
    Banyak wisatawan kini ingin berkontribusi terhadap pelestarian budaya dan alam. Experience-based tourism memungkinkan interaksi yang lebih bermakna dengan masyarakat lokal.

3. Bentuk Experience-Based Tourism

Experiential tourism in Peru: 5 must-visit destinations | Lorenzo  Expeditions

Beberapa contoh implementasi wisata berbasis pengalaman di Indonesia dan dunia:

a) Wisata Budaya

  • Belajar membatik di Yogyakarta.
  • Mengikuti ritual adat seperti upacara Ngaben di Bali (dalam bentuk yang diizinkan untuk wisatawan).
  • Mencoba alat musik tradisional seperti gamelan, angklung, atau sasando.

b) Wisata Kuliner

  • Cooking class makanan tradisional (contoh: membuat rendang di Sumatra Barat atau sambal khas Lombok).
  • Wisata kopi: ikut memetik, mengolah, hingga menyeduh kopi di perkebunan (contoh: kopi Gayo di Aceh, kopi Kintamani di Bali).

c) Wisata Alam & Pertanian

  • Agrowisata petik buah (apel Malang, stroberi Lembang).
  • Wisata sawah: menanam padi, membajak sawah dengan kerbau.
  • Wisata laut: ikut melaut dengan nelayan, belajar membuat perahu atau jaring.

d) Wisata Kreatif & UMKM

  • Workshop kerajinan tangan seperti membuat gerabah (Kasongan, Bantul) atau tenun ikat (Flores, NTT).
  • Belajar membuat perhiasan perak di Celuk, Bali.

4. Manfaat Experience-Based Tourism

Experiential tourism in the Peruvian Amazon Rainforest | Lorenzo Expeditions

http://www.mstsgmo.com

  1. Bagi Wisatawan
    • Mendapat pengalaman otentik yang berkesan.
    • Lebih memahami budaya lokal.
    • Bisa belajar keterampilan baru.
  2. Bagi Masyarakat Lokal
    • Peningkatan ekonomi melalui jasa wisata interaktif.
    • Pelestarian budaya karena generasi muda ikut dilibatkan.
    • Kesempatan untuk mengenalkan kearifan lokal secara positif.
  3. Bagi Daerah & Negara
    • Membuat destinasi lebih menarik dan berdaya saing.
    • Mendorong pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).
    • Mengurangi risiko over-tourism di destinasi mainstream dengan menciptakan diversifikasi aktivitas.

5. Tantangan Experience-Based Tourism

  • Kesiapan SDM lokal: masyarakat perlu pelatihan agar bisa mengajar, melayani, dan berkomunikasi dengan wisatawan.
  • Keterbatasan fasilitas: tidak semua desa atau komunitas siap menerima wisatawan dalam jumlah besar.
  • Autentisitas vs Komersialisasi: jika tidak hati-hati, kegiatan bisa kehilangan nilai asli dan hanya jadi “atraksi turis”.
  • Promosi digital: masih banyak desa wisata yang belum memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar global.
Eco-Tourism In The Amazon... Just Go! - Boho Beautiful

6. Fakta Kekinian

  • Laporan UNWTO (United Nations World Tourism Organization) 2023 menyebut bahwa wisata berbasis pengalaman merupakan tren pariwisata global nomor satu pasca pandemi.
  • Studi dari Booking.com (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 70% wisatawan global ingin mencoba aktivitas lokal otentik dalam perjalanan mereka.
  • Di Indonesia, Kemenparekraf aktif mendorong program Desa Wisata yang sebagian besar berbasis pengalaman, misalnya Desa Wisata Nglanggeran (Yogyakarta), Desa Wisata Penglipuran (Bali), dan Desa Wisata Sade (Lombok).

7. Strategi Pengembangan Experience-Based Tourism

  1. Pelatihan Masyarakat Lokal → hospitality, bahasa asing, digital marketing.
  2. Diversifikasi Produk → jangan hanya satu aktivitas, tetapi paket lengkap (misalnya: belajar membatik + kuliner + pertunjukan musik).
  3. Kolaborasi dengan Travel Platform → seperti Traveloka, Airbnb Experience, atau paket wisata digital.
  4. Pemasaran Kreatif → menggunakan influencer, YouTube travel vlogger, hingga promosi TikTok.
  5. Menjaga Autentisitas → aktivitas harus tetap asli, bukan dibuat-buat semata untuk turis.
Visiting the Amazon rainforest: eco-friendly ways to travel to the Amazon!

Nilai Lebih Experience-Based Tourism

  1. Wisatawan tidak sekadar melihat, tetapi ikut mengalami kehidupan warga.
  2. Memberi dampak ekonomi langsung ke masyarakat desa (homestay, kuliner, kerajinan).
  3. Budaya lokal tetap hidup karena dipraktikkan dalam keseharian.
  4. Aktivitas berkelanjutan & ramah lingkungan.

Experience-Based Tourism adalah masa depan pariwisata. Wisatawan kini lebih tertarik untuk mengalami langsung budaya, alam, dan kehidupan masyarakat lokal dibanding hanya melihat-lihat. Indonesia memiliki potensi besar karena kekayaan tradisi, kuliner, dan keramahtamahan masyarakatnya. Jika dikelola dengan baik, wisata berbasis pengalaman bisa meningkatkan ekonomi daerah sekaligus menjaga warisan budaya dan lingkungan.