Berdasarkan laporan World Intellectual Property Organization (WIPO) 2025, valuasi global unicorn mencapai USD 5.2 triliun, meningkat 37% dari USD 3.8 triliun pada 2022. Asia-Pasifik kini menjadi rumah bagi 475 unicorn dengan China dan India memimpin pertumbuhan, didorong oleh investasi masif dalam teknologi mendalam seperti AI, robotika, dan semikonduktor.
Fenomena deep tech 2026 menciptakan gelombang baru unicorn di Asia dengan karakteristik berbeda dari dekade sebelumnya. Korea Selatan mengalokasikan USD 430 juta untuk akselerator deep tech, China memiliki 46 unicorn deep tech dengan total valuasi USD 104 miliar, sementara Asia Tenggara mengalami transformasi dari model bisnis consumer tech menuju infrastruktur teknologi berkelanjutan.
Namun tantangan signifikan muncul: pendanaan di Asia Tenggara turun 39.55% pada 2025, Indonesia hanya memiliki 8 unicorn dibandingkan Singapura yang memiliki 18, dan 25% founder Asia-Pasifik mengakui tidak melakukan due diligence memadai pada investor. Artikel ini menganalisis bagaimana deep tech membentuk ekosistem unicorn Asia di 2026, strategi negara-negara dalam mencetak unicorn baru, serta peluang dan hambatan yang dihadapi startup regional.
Snapshot Deep Tech Asia 2026
- 475 unicorn di Asia-Pasifik dengan valuasi gabungan triliunan dolar
- Korea: USD 430 juta investasi pemerintah untuk 15 fund manager AI & deep tech
- China: 46 unicorn deep tech, 372 total unicorn dengan valuasi USD 1.2 triliun
- Indonesia: 8 unicorn, pertumbuhan fokus sustainability & deep tech
- India: 66 unicorn dengan 3 unicorn deep tech di Asia Selatan
Apa Itu Deep Tech dan Mengapa Penting untuk Ekosistem Unicorn Asia 2026?

Berdasarkan Tracxn Research 2026, deep tech adalah perusahaan yang mengembangkan produk berbasis inovasi teknologi dan perkembangan ilmiah seperti blockchain, AI, robotika lanjutan, dan IoT. Berbeda dari consumer tech yang fokus pada aplikasi dan layanan digital, deep tech memerlukan riset mendalam, investasi jangka panjang, dan breakthrough teknologi fundamental.
Deep tech 2026 ciptakan gelombang unicorn di Asia karena beberapa faktor krusial. Pertama, Asia mengalami transisi dari model bisnis “growth-at-all-costs” menuju “sustainable profitability”. Menurut DealStreetAsia, pendanaan startup Asia Tenggara turun ke level terendah 6 tahun dengan hanya USD 1.85 miliar di H1 2025, setengah dari periode yang sama 2 tahun sebelumnya. Kondisi ini memaksa startup fokus pada teknologi dengan moat kompetitif kuat.
Kedua, pemerintah Asia memberikan dukungan masif. Korea Selatan melalui Ministry of SMEs and Startups mengalokasikan ₩600 miliar (USD 430 juta) untuk program Fund-of-Funds yang menargetkan 15 venture fund manager di sektor AI dan deep tech. China memiliki dana high-tech senilai USD 138 miliar dan sedang membangun infrastruktur AI “Stargate of China” senilai USD 37 miliar.
Data Kunci: Berdasarkan Global Super-Gap Tech Conference APEC 2025 di Seoul, Korea menargetkan transformasi AI untuk semua sektor dengan fokus pada 10 industri frontier: AI, robotika, semikonduktor, biotech, energi hijau, dan teknologi quantum. Event ini menghadirkan lebih dari 2,000 partisipan termasuk startup, investor global, dan institusi publik dari seluruh Asia-Pasifik.
Peta Kekuatan Deep Tech: Korea, China, dan Asia Tenggara Memimpin Transformasi 2026

Korea Selatan: Strategi Agresif Mencetak Next Unicorn dengan Deep Tech
Korea Selatan menunjukkan komitmen luar biasa dalam deep tech 2026 ciptakan gelombang unicorn di Asia melalui program “NEXT UNICORN Project”. Berdasarkan KoreaTechDesk, pada September 2025, Kementerian UKM dan Startup Korea memilih 15 venture fund manager untuk mengelola ₩600 miliar dengan komitmen pemerintah sebesar ₩310 miliar dari Mother Fund.
Yang menarik adalah partisipasi Coupang, unicorn flagship Korea yang terdaftar di NASDAQ, sebagai co-investor dalam program ini. Ini mencerminkan model corporate venture co-investment yang dapat mempercepat transfer pengetahuan dan jalur komersialisasi bagi inovator Korea. Dana-dana yang dipilih diwajibkan menyelesaikan pembentukan dalam 3 bulan dan mulai berinvestasi pada 2025.
Minister Han Seong-sook menyatakan: “Teknologi deep tech yang didorong AI menjadi tulang punggung perubahan kehidupan sehari-hari dan industri. Kami akan memperkuat sistem dukungan nasional dan mempercepat penciptaan unicorn generasi berikutnya melalui kolaborasi lebih dalam antara pemerintah dan industri.”
China: 46 Unicorn Deep Tech dengan Valuasi USD 104 Miliar
Berdasarkan Tracxn 2026, China memiliki 5,545 perusahaan deep tech aktif dengan 46 unicorn di sektor ini. Total funding yang dihimpun mencapai USD 104 miliar. Namun menariknya, pendanaan deep tech China turun 26.16% pada 2025 (USD 4.57 miliar) dibandingkan 2024 (USD 6.19 miliar), mencerminkan konsolidasi dan fokus pada kualitas dibanding kuantitas.
GEI China Unicorn Enterprise Research Report 2025 mengungkap bahwa China memiliki 372 perusahaan unicorn dengan total valuasi melebihi USD 1.2 triliun. Struktur ini didominasi oleh 11 “super unicorns” yang menyumbang hampir 40% dari nilai total. Beijing memimpin dengan 115 unicorn (71.3% di hard tech), Shanghai memiliki 65 unicorn yang fokus pada ICT dan life sciences, sementara Shenzhen unggul dalam R&D dan komersialisasi teknologi cepat dengan 42 unicorn.
Tren penting yang teridentifikasi: modal bergeser dari “mengejar tren” ke “membangun fondasi”. Pendanaan berbasis RMB mencapai 74.3%, dengan 60% perusahaan melibatkan modal negara, menunjukkan basis dukungan yang lebih dalam dan stabil untuk ekonomi inovasi China.
Asia Tenggara: Indonesia, Singapura, dan Vietnam Dalam Persaingan Unicorn
Berdasarkan Hurun Global Unicorn Index 2025, Asia Tenggara memiliki 37 unicorn dengan Singapura memimpin (18 unicorn), diikuti Indonesia (8 unicorn), Vietnam (4 unicorn), Thailand dan Filipina (masing-masing 3 unicorn), serta Malaysia (1 unicorn).
Indonesia mengalami penurunan pendanaan signifikan: berdasarkan Tracxn, hingga November 2025 hanya USD 264 juta terhimpun dalam 41 putaran pendanaan, turun 39.55% dibandingkan USD 437 juta pada periode yang sama 2024. Namun Indonesia tetap memiliki 14 unicorn total dengan 32,396 perusahaan aktif dan ekosistem yang matang didukung investor seperti East Ventures, European Union, dan AC Ventures.
Yang menarik, ecosystem Indonesia mulai bergeser ke deep tech dan sustainability. Lisk Spark, inkubator Web3 pertama yang didukung pemerintah Indonesia, diluncurkan dalam kemitraan dengan pemain global untuk mendorong aplikasi blockchain. Fokus juga meningkat pada agritech, edtech, cleantech, dan healthtech yang menangani prioritas nasional seperti ketahanan pangan, pendidikan digital, dan energi berkelanjutan.
Studi Kasus: GCash Filipina menjadi contoh sukses fintech yang mencapai status unicorn dengan fokus pada aksesibilitas keuangan. Dengan lebih dari 80 juta pengguna terdaftar dan ekspansi ke lending, asuransi, dan investasi, GCash membuktikan bahwa memecahkan masalah lokal dalam skala besar tetap menjadi mesin pertumbuhan terbaik di Asia Tenggara.
Sektor Deep Tech yang Mendominasi Gelombang Unicorn Asia 2026

Artificial Intelligence: Pendorong Utama dengan Valuasi Triliunan
Berdasarkan analisis ManageEngine Insights 2025, AI menjadi sektor paling dinamis dalam persaingan unicorn global. China menangkap 76% dari pendanaan AI Asia pada 2024, sekitar USD 7.3 miliar. Perusahaan besar seperti Alibaba, Tencent, dan Baidu berinvestasi masif dalam generative AI dan large language models seperti Qwen dan ERNIE.
Di China, unicorn AI yang menonjol termasuk MEGVII (USD 4 miliar), Zhipu AI (USD 3 miliar), Moonshot AI (USD 3.3 miliar), dan MiniMax AI (USD 1.2 miliar). Secara kolektif, venture AI ini bernilai lebih dari USD 15 miliar, menggarisbawahi dorongan nasional Beijing untuk kepemimpinan AI.
Yang membuat 2026 berbeda adalah kemunculan DeepSeek R1, model AI China yang mengejutkan komunitas teknologi global dengan efisiensi dan performa luar biasa – setara dengan model terkemuka AS namun dengan biaya pengembangan yang jauh lebih rendah. Ini menandakan China tidak hanya bersaing dalam kuantitas, tetapi juga inovasi fundamental.
Robotika dan Semikonduktor: Fondasi Manufaktur Masa Depan
Korea Selatan menempatkan robotika dan semikonduktor sebagai anchor dalam strategi deep tech. Global Super-Gap Tech Conference 2025 menampilkan panel diskusi dengan perwakilan dari KAIST, LG Electronics, FuriosaAI, dan NotaAI yang membahas bagaimana ekosistem deep tech Korea dapat membangun keunggulan kompetitif global.
China juga agresif di sektor ini. Unicorn industri baru termasuk Zhiyuan Robot, perusahaan robotika yang fokus pada humanoid dan robot multi-guna dengan valuasi USD 1.4 miliar. Tren ini didorong oleh kebutuhan otomasi manufaktur, aging population, dan ambisi China untuk mendominasi rantai nilai teknologi tinggi.
Fintech dan Infrastruktur Pembayaran: Sektor Terbanyak dengan 242 Unicorn Global
Berdasarkan Founders Forum Group, fintech tetap menjadi sektor unicorn terbesar secara global dengan 242 perusahaan. Di Asia Tenggara, Thunes menjadi unicorn pada awal 2025 setelah pendanaan Series D senilai USD 150 juta. Airwallex mengumpulkan USD 300 juta pada Mei 2025 dan mencapai run rate pendapatan USD 1 miliar dengan volume transaksi tahunan melewati USD 130 miliar.
Yang membedakan unicorn fintech Asia adalah fokus pada infrastructure plays dibanding consumer apps. Startup yang membangun payment rails, cross-border infrastructure, dan embedded finance mendapat favorit investor karena memiliki moat kompetitif lebih kuat dan jalur profitabilitas lebih jelas.
Strategi Mencetak Unicorn Deep Tech: Pelajaran dari Ekosistem Terdepan Asia

Model Korea: Kolaborasi Pemerintah-Korporasi-Startup
Korea menerapkan model “triple helix” yang mengintegrasikan kelincahan startup, sumber daya korporasi, dan koordinasi pemerintah dalam strategi global terpadu. Ministry of SMEs and Startups berencana merestrukturisasi 10 paradigma teknologi super-gap mereka seputar transformasi AI dan kerja sama lintas kementerian, dengan dukungan yang diperluas untuk R&D, komersialisasi, dan scaling overseas melalui Startup & Venture Campuses baru di hub seperti Silicon Valley.
Program open innovation dengan perusahaan besar Korea seperti CJ ENM dan Kakao, serta kemitraan sektor bio yang melibatkan kedutaan AS dan Jerman, menjembatani inovator tahap awal dengan value chains global. Partisipasi Ministry of Investment Arab Saudi dalam sesi investor lebih lanjut menekankan ambisi Korea untuk menghubungkan ekosistem startup-nya dengan pasar berkembang di Timur Tengah.
Model China: State Capital + Private Innovation
China menggunakan kombinasi unik antara modal negara masif dan inovasi sektor swasta. Dengan 60% unicorn melibatkan modal negara dan 74.3% pendanaan berbasis RMB, China membangun basis yang lebih stabil dan kurang rentan terhadap volatilitas modal global.
Namun tantangannya adalah cross-border investment menurun drastis. Hanya 11% funding 2025 berasal dari investor luar negeri (termasuk funds managed oleh GP China seperti GGV dan GSR). Sebagian besar dana Barat – terutama yang berbasis AS – memusatkan eksposur deep tech APAC mereka di India dan Jepang yang dipersepsikan memiliki risiko geopolitik lebih rendah.
Model Asia Tenggara: Focus on Profitability Over Growth
Berdasarkan Tech Collective Southeast Asia, unicorn terbaik di kawasan ini pada 2025 berbagi empat karakteristik: operational maturity, infrastructure focus, regional adaptability, dan profitability mindset. Startup bergerak melampaui pemikiran growth-first, memotong unit non-esensial, meningkatkan margin, dan mengurangi burn rate.
Carro, startup mobility Indonesia yang didukung Temasek dan SoftBank, menjadi contoh. Dimulai sebagai platform mobil bekas, Carro berkembang menjadi bisnis mobility multi-layanan yang mengintegrasikan pembiayaan, asuransi, layanan purna jual, inspeksi kendaraan berbasis AI, dan logistik. Rencana IPO di AS diharapkan terjadi akhir 2025 atau awal 2026.
Tantangan Deep Tech 2026 dalam Mencetak Unicorn di Asia
Penurunan Funding dan Selektivitas Investor yang Meningkat
Data menunjukkan tekanan signifikan pada ekosistem pendanaan. Asia Tenggara mengalami penurunan funding ke level terendah 6 tahun (USD 1.85 miliar di H1 2025). Indonesia turun 39.55%, sementara China deep tech turun 26.16% year-over-year. Investor jauh lebih selektif, founders lebih berhati-hati, dan valuasi berada di bawah tekanan.
Berdasarkan Angel Investment Network Asia Pacific Founder Survey 2026, 25% founder mengakui tidak melakukan due diligence pada investor di luar pencarian online sekilas. Hanya 30% yang melakukan pemeriksaan komprehensif seperti verifikasi hukum atau referensi founder. Ini meninggalkan banyak startup berisiko mendapat “bad fit capital” yang dapat menghambat pertumbuhan jangka panjang.
Gap Antara Ambisi dan Eksekusi
Meskipun 39% startup Asia-Pasifik masih memiliki ambisi menjadi unicorn, realitas menunjukkan bahwa 70% founder berusia di atas 45 tahun – bertentangan dengan stereotip “young tech prodigy”. Ini mencerminkan bahwa membangun unicorn deep tech memerlukan pengalaman, modal signifikan, dan komitmen penuh waktu.
72% startup Asia-Pasifik sekarang mencari campuran investor lokal dan internasional, dengan 27% menargetkan backer internasional secara eksklusif. Hanya 1% founder yang kini mencari pendanaan semata-mata dalam batas lokal mereka. Ini adalah sinyal jelas bahwa venture Asia-Pasifik dibangun untuk panggung global sejak hari pertama.
Ketergantungan pada Teknologi dan Regulasi Eksternal
China menghadapi tantangan ketergantungan pada GPU buatan AS, ketidakpastian regulasi, dan geopolitik. Meskipun membangun infrastruktur AI masif, akses ke chip terdepan dan teknologi kritis masih menjadi bottleneck. Western funds mengurangi eksposur ke China, memilih India dan Jepang sebagai alternatif yang lebih aman.
Asia Tenggara menghadapi fragmentasi pasar. Dengan berbagai bahasa, regulasi, dan tingkat kematangan ekonomi digital, scaling regional jauh lebih kompleks dibanding pasar tunggal seperti AS atau China. Startup harus navigate berbagai kerangka legal, preferensi konsumen, dan infrastruktur pembayaran yang bervariasi.
Peluang Emas: Sektor Deep Tech yang Siap Booming di Asia 2026-2030
Sustainability Tech dan Green Energy
Indonesia meluncurkan fokus signifikan pada sustainability. State-owned firms meningkatkan investasi di startup lokal yang fokus pada infrastruktur digital dan green tech. Ini menciptakan peluang besar bagi deep tech 2026 ciptakan gelombang unicorn di Asia yang menangani climate change, renewable energy, dan circular economy.
Healthcare Tech dan Precision Medicine
Berdasarkan Tracxn South Asia, Uniphore telah mengumpulkan USD 987 juta, tertinggi di antara perusahaan deep tech yang didanai di Asia Selatan. Sektor healthtech global memiliki 103 unicorn dengan valuasi gabungan lebih dari USD 200 miliar. Inovasi dalam telehealth, perangkat medis, dan diagnostik menandakan tren investasi jangka panjang dengan dampak dunia nyata.
Asia dengan aging population (terutama Korea, Jepang, China) dan akses healthcare yang masih terbatas (Asia Tenggara, Asia Selatan) menjadi pasar ideal untuk solusi healthtech. Robotik medis, AI-driven diagnostics, dan precision medicine berbasis genomics akan menjadi sektor dengan pertumbuhan eksponensial.
Web3, Blockchain, dan Digital Infrastructure
Lisk Spark di Indonesia dan berbagai inisiatif blockchain di China dan Korea menunjukkan momentum Web3. Dengan 76 unicorn cybersecurity global (valuasi hampir USD 200 miliar), infrastruktur digital yang aman dan terdesentralisasi menjadi kebutuhan kritis. Asia berpotensi memimpin dalam real-world applications blockchain untuk supply chain, digital identity, dan cross-border payments.
Proyeksi 2030: Berdasarkan EOS Global Expansion, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan berkontribusi hampir 18% terhadap GDP pada 2030, didorong oleh digital finance, smart manufacturing, dan e-governance. Dengan produktivitas meningkat, employment formal yang lebih tinggi, dan ekspor bernilai tambah, sektor teknologi akan memainkan peran penting dalam mendefinisikan ulang daya saing nasional.
Baca Juga AI Ubah Startup Indonesia Lebih Cepat Hemat 2026
FAQ: Deep Tech 2026 Ciptakan Gelombang Unicorn di Asia
Berapa jumlah unicorn deep tech di Asia saat ini?
Berdasarkan data Tracxn 2026, China memiliki 46 unicorn deep tech dengan total funding USD 104 miliar. Asia Selatan memiliki 3 unicorn deep tech. Di tingkat Asia-Pasifik, terdapat 475 total unicorn dengan porsi signifikan di sektor deep tech termasuk AI, robotika, dan semikonduktor. Jumlah ini terus berkembang dengan Korea Selatan menargetkan gelombang baru melalui investasi USD 430 juta.
Mengapa pendanaan startup Asia Tenggara turun drastis pada 2025?
Berdasarkan DealStreetAsia, pendanaan di Asia Tenggara turun ke level terendah 6 tahun dengan hanya USD 1.85 miliar di H1 2025, hampir setengah dari periode sama 2 tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh ketidakpastian global, kenaikan suku bunga, kondisi exit yang menantang, dan pergeseran investor dari growth-at-all-costs ke sustainable profitability. Indonesia khususnya mengalami penurunan 39.55% dalam pendanaan tahun 2025.
Apa strategi Korea Selatan dalam mencetak unicorn deep tech?
Korea Selatan menerapkan program “NEXT UNICORN Project” dengan mengalokasikan ₩600 miliar (USD 430 juta) melalui Ministry of SMEs and Startups. Program ini memilih 15 venture fund manager untuk berinvestasi di AI dan deep tech dengan komitmen pemerintah ₩310 miliar. Strategi mencakup kolaborasi pemerintah-korporasi-startup (triple helix), Startup & Venture Campuses di Silicon Valley, dan partisipasi perusahaan besar seperti Coupang sebagai co-investor.
Sektor deep tech apa yang paling menjanjikan di Asia 2026-2030?
Berdasarkan tren investasi dan kebijakan pemerintah, tiga sektor paling menjanjikan adalah: (1) AI dan Machine Learning dengan fokus pada aplikasi industri spesifik, (2) Sustainability tech termasuk green energy, green hydrogen, dan climate tech didorong oleh target net-zero berbagai negara, dan (3) Healthcare tech khususnya precision medicine, robotik medis, dan telehealth mengingat aging population dan gap akses kesehatan di Asia.
Bagaimana Indonesia bisa meningkatkan jumlah unicorn dari 8 menjadi 20+?
Untuk mencapai target, Indonesia perlu: (1) Meningkatkan investasi pemerintah dalam deep tech dan R&D fundamental, (2) Memperkuat ekosistem dengan lebih banyak akselerator dan venture capital lokal yang fokus pada sustainability dan profitability, (3) Memperbaiki infrastruktur digital dan regulasi yang mendukung inovasi, (4) Mendorong kolaborasi universitas-industri untuk commercialization teknologi, dan (5) Memfasilitasi akses ke pasar regional dan global melalui free trade agreements dan startup diplomacy.
Apa perbedaan utama deep tech dengan consumer tech dalam konteks unicorn?
Deep tech fokus pada breakthrough teknologi fundamental berbasis riset ilmiah (AI, robotika, quantum, biotech) yang memerlukan investasi jangka panjang dan memiliki moat kompetitif kuat dari IP dan expertise teknis. Consumer tech fokus pada aplikasi dan layanan digital yang lebih cepat ke pasar tetapi dengan kompetisi lebih tinggi. Dalam konteks 2026, investor bergeser ke deep tech karena sustainable competitive advantage dan path to profitability yang lebih jelas di tengah penurunan valuasi global.
Bagaimana geopolitik mempengaruhi ekosistem unicorn deep tech Asia?
Geopolitik menciptakan fragmentasi investasi. Data menunjukkan hanya 11% funding China 2025 berasal dari cross-border investors, turun drastis karena restriksi dan perceived risk. Western funds mengalihkan fokus ke India dan Jepang. Namun ini juga menciptakan peluang: Korea dan ASEAN positioning sebagai “neutral innovation hubs”, China mempercepat self-sufficiency teknologi dengan investasi masif domestik, dan regional collaboration meningkat seperti terlihat di APEC Startup Alliance.
Deep Tech 2026 Ciptakan Gelombang Unicorn di Asia dengan Fondasi Lebih Kuat
Deep tech 2026 ciptakan gelombang unicorn di Asia dengan karakteristik fundamental berbeda dari boom teknologi dekade sebelumnya. Data menunjukkan bahwa:
- Valuasi global unicorn mencapai USD 5.2 triliun dengan Asia-Pasifik menjadi rumah bagi 475 unicorn, dipimpin oleh China (343 total unicorn, 46 deep tech) dan India (66 unicorn)
- Investasi pemerintah meningkat signifikan dengan Korea mengalokasikan USD 430 juta untuk deep tech, China USD 138 miliar untuk high-tech fund, dan Indonesia fokus pada sustainability tech
- Shift dari growth ke profitability dengan pendanaan Asia Tenggara turun 39.55% tetapi unicorn yang survive menunjukkan operational maturity dan clear path to profitability
- Sektor deep tech mendominasi dengan AI, robotika, semikonduktor, dan healthtech menjadi fokus utama didukung oleh kebutuhan fundamental ekonomi dan masyarakat
- Regional collaboration meningkat melalui platform seperti APEC Startup Alliance, cross-border fund, dan corporate venture co-investment
Tantangan tetap ada: penurunan funding, selektivitas investor meningkat, due diligence yang lemah dari 25% founders, dan fragmentasi geopolitik. Namun peluang juga besar: sustainability tech untuk mencapai net-zero, healthtech untuk aging population dan healthcare gap, serta Web3 untuk digital infrastructure yang aman dan terdesentralisasi.
Ekosistem unicorn Asia 2026 tidak lagi sekadar meniru Silicon Valley, tetapi membangun model unik yang mengintegrasikan kolaborasi pemerintah-korporasi-startup, fokus pada teknologi dengan dampak jangka panjang, dan positioning regional sebagai innovation hubs global. Dengan fondasi yang lebih kuat dan sustainable, gelombang unicorn deep tech Asia berpotensi mendefinisikan ulang lanskap teknologi global dekade mendatang.
Tim Redaksi MSTS GMO – Spesialis analisis startup dan ekosistem inovasi dengan pengalaman 8+ tahun mengikuti perkembangan teknologi di Asia-Pasifik. Menggunakan data dari sumber kredibel seperti WIPO, Tracxn, DealStreetAsia, Hurun Research, dan publikasi pemerintah resmi untuk memberikan insight akurat tentang dinamika startup regional. Fokus riset meliputi deep tech, venture capital trends, dan kebijakan inovasi di Indonesia dan Asia Tenggara.
Referensi dan Sumber Data
- World Intellectual Property Organization (WIPO). (2026). “Global Unicorn Valuation Reaches USD 5.2 Trillion in 2025.”
- KoreaTechDesk. (September 2025). “15 Venture Funds Selected as Korea Commits US$430M to AI & Deep-Tech Unicorns.”
- KoreaTechDesk. (October 2025). “Deep-Tech to Drive Korea’s Next Unicorn Wave: Inside APEC 2025 Startup Side Event.”
- Tracxn Research. (January 2026). “Deep Tech in China – 2026 Market & Investments Trends.”
- Tracxn Research. (January 2026). “Deep Tech in South Asia – 2026 Market & Investments Trends.”
- Tracxn Research. (January 2026). “Startups in Indonesia – 2026 Latest Funding Rounds, Trends and News.”
- Chinascope. (August 2025). “China’s 2025 Unicorn Report: Deep Tech Rise, Regional Clusters, and Capital Shift.”
- DealStreetAsia / Tech Collective. (September 2025). “Southeast Asia’s unicorns in 2025 show a new startup reality.”
- Hurun Research Institute. (2025). “Global Unicorn Index 2025.”
- Angel Investment Network. (January 2026). “Why Asia Pacific’s over 45 founders are the new face of Unicorn ambition.”
- Founders Forum Group. (May 2025). “Unicorn Companies 2025: Global List, Stats & Valuation Insights.”
- ManageEngine Insights. (November 2025). “AI unicorn race 2025: The global hunt for billion-dollar startups.”
- EOS Global Expansion. (April 2025). “Indonesia Tech Industry: A Digital Powerhouse in the Making.”
- Asia Business Outlook. (2026). “Asia 2026: AI, Unicorns & Market Leadership.”
- Failory. (November 2025). “The Full List of 475 APAC Unicorn Startups (2026).”